Baranusa, Alor News — Suasana Desa Baranusa, Kecamatan Pantar Barat, Sabtu (16/05/2026), dipenuhi semangat kebersamaan dan nuansa adat saat kedatangan kafilah serta dewan hakim Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tingkat Kabupaten Alor.
Sejak siang hari, arus kedatangan kafilah mulai memasuki Baranusa melalui dua jalur perjalanan. Kafilah dari Kecamatan Pantar dan Pantar Tengah tiba melalui jalur darat dan langsung menuju arena MTQ yang telah disiapkan panitia. Sementara itu, delapan kafilah lainnya tiba melalui jalur laut menggunakan kapal feri dari Pulau Alor dan disambut di Pelabuhan ASDP Baranusa.
Di kedua titik kedatangan tersebut, Camat Pantar Barat bersama unsur pemerintah kecamatan, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, panitia pelaksana, dan warga setempat turut menyambut langsung rombongan kafilah. Suasana penyambutan berlangsung semarak, hangat, dan penuh kekeluargaan.
Momen penyambutan semakin semarak dengan penampilan Tarian Seki dan Jabel dari Desa Ler, yang dibawakan secara kolosal oleh masyarakat setempat. Tarian adat penjemputan tamu kehormatan ini menjadi simbol penghormatan, penerimaan, dan persaudaraan masyarakat Pantar Barat kepada seluruh rombongan MTQ XXXI.
Usai prosesi adat, para kafilah kemudian diserahkan kepada masing-masing bapak asuh untuk diantar menuju penginapan yang telah disiapkan panitia. Pola penerimaan ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mencerminkan kuatnya nilai kekeluargaan yang hidup dalam masyarakat setempat.
MTQ sebagai Ruang Kebersamaan dan Toleransi
MTQ kali ini bukan sekadar perhelatan keagamaan. Lebih dari itu, ia menjadi ruang perjumpaan, kebersamaan, dan pengingat bahwa perbedaan adalah kekuatan yang mempersatukan masyarakat Alor. Para kafilah datang membawa keberagaman—berbeda agama, suku, bahasa, dan budaya—namun dipersatukan dalam semangat persaudaraan sebagai sesama anak Alor.
Di tengah rangkaian kegiatan ini, tampak wajah kehidupan sosial masyarakat Alor yang khas. Pimpinan kafilah dari berbagai kecamatan tidak hanya berasal dari tokoh Muslim, tetapi juga melibatkan tokoh agama maupun tokoh masyarakat beragama Nasrani. Hal ini menjadi gambaran nyata bahwa kehidupan bersama di Alor telah lama dibangun di atas saling percaya dan saling menghormati.
Di tanah ini, toleransi tidak berhenti sebagai slogan. Ia hidup dalam keseharian, tumbuh dalam budaya, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Walaupun keyakinan berbeda, serta bahasa dan adat tidak selalu sama, namun nilai persaudaraan telah mengikat masyarakat menjadi satu kekuatan yang tidak mudah dipisahkan.
MTQ bukan hanya tentang lantunan ayat suci Al-Qur’an, tetapi juga tentang merawat harmoni sosial, memperkuat kerukunan, dan menjaga kedamaian di tengah keberagaman.
Dari Baranusa, Alor kembali menyampaikan pesan kepada Indonesia:
“Keberagaman bukan alasan untuk terpecah, melainkan jalan untuk saling mengenal, menghormati, dan hidup berdampingan dalam damai.”
Penulis: Khabib
Foto: Tim Media Lavo Tana
Editor: Tim Redaksi Alor News











