Oleh: Tim Penulis KIX EMAP RCCS Indonesia
KALABAHI, ALOR NEWS — Kasus kekerasan dan perundungan (bullying) di lingkungan sekolah kembali menyengat kesadaran publik. Kita sering mendengar kabar duka anak-anak yang takut pergi sekolah, mengalami trauma psikologis, hingga kehilangan nyawa akibat kekerasan oleh kawan sebayanya. Pertanyaan pilu yang kerap dilontarkan orang tua adalah: “Anak saya pergi untuk belajar, kenapa pulang membawa duka? Apa tanggung jawab sekolah?”
Persoalan ini bukan sekadar cerita jauh di kota-kota besar, melainkan tantangan nyata yang membayangi dunia pendidikan kita di Nusa Tenggara Timur, termasuk di Kabupaten Alor. Data Asesmen Nasional (AN) 2024 menunjukkan fakta riset yang mengejutkan sekaligus menegaskan: angka pengalaman perundungan siswa masih tergolong tinggi, dengan tingkat paling mengkhawatirkan terjadi di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP/MTs).
Selama ini, respons yang kita berikan cenderung bersifat administratif atau reaktif—membentuk Satuan Tugas (Satgas), membacakan deklarasi anti-perundungan, atau menindak pelaku setelah kejadian memilukan itu telanjur pecah. Namun, apakah pendekatan “pemadam kebakaran” ini cukup?
Jawabannya: Tidak. Untuk memutus rantai kekerasan secara permanen, kita perlu menyentuh akar masalahnya melalui penguatan Pembelajaran Sosio-Emosional (Social and Emotional Learning/SEL).
Bukan Sekadar Angka: Hubungan Erat Antara Kedisiplinan, Mental, dan Prestasi
Berdasarkan hasil analisis data Asesmen Nasional 2024 yang diolah oleh tim peneliti Kemendikdasmen dan PSPK (Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan), ditemukan fakta menarik yang saling berkaitan:
- Disiplin Positif Guru Adalah Benteng Utama. Guru yang menerapkan disiplin positif—yaitu membimbing dan merangkul tanpa hukuman fisik atau makian—memiliki pengaruh sangat kuat (koefisien 0,744) terhadap kesejahteraan psikologis (psychological well-being) siswa.
- Keterampilan Sosio-Emosional Membentuk Karakter Tangguh. Anak yang dibekali kemampuan mengelola emosi, berempati, dan menyelesaikan konflik secara damai memiliki kesehatan mental yang lebih baik dan lebih terlindung dari risiko perundungan.
- Anak yang Bahagia Berprestasi Lebih Baik. Ada korelasi langsung antara kemampuan sosio-emosional siswa dengan capaian akademik, khususnya pada kemampuan literasi dan numerasi. Ketika sekolah menjadi tempat yang aman dan nyaman, otak anak siap menyerap ilmu pengetahuan dengan maksimal.
Menghidupkan SEL dalam Ruang Kelas: Apa yang Harus Berubah?
Pemerintah memang telah menerbitkan berbagai kebijakan, mulai dari Kurikulum Merdeka, Profil Pelajar Pancasila, Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), hingga program Sekolah Ramah Anak (SRA). Namun, di lapangan, integrasi pembelajaran sosio-emosional sering kali masih sebatas teori atau hafalan normatif, belum menyentuh praktik harian di kelas.
Proyek pembelajaran kerap fokus pada produk fisik yang dihasilkan siswa, bukan pada proses bagaimana anak-anak belajar bekerja sama, mendengarkan teman, dan mengendalikan amarah.
Oleh karena itu, ada tiga langkah konkret yang perlu didorong bersama oleh pemerintah daerah, dinas pendidikan, Kementerian Agama, hingga para pendidik di Kabupaten Alor:
- Pembelajaran Sosio-Emosional Berbasis Tahap Perkembangan Anak.
Pada jenjang SD/MI, fokus utama adalah pembiasaan perilaku prososial—belajar mengenalkan emosi (marah, sedih, senang), berbagi, dan saling menolong. Sementara itu, pada jenjang SMP & SMA/SMK/MA, fokus digeser pada pengelolaan konflik sebaya, penumbuhan empati mendalam, pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, serta kemampuan bangkit dari tekanan (resilience). - Menjadikan Guru sebagai Teladan (Role Model) Sosio-Emosional.
Guru tidak bisa mengajarkan ketenangan jika mengajar dengan emosi yang meledak-ledak. Pelatihan disiplin positif dan pendekatan restoratif (restorative approach) harus diwajibkan. Guru perlu dibantu untuk mengelola emosi diri sebelum mengelola kelas. Praktik penciptaan iklim kelas yang aman juga perlu dimasukkan dalam indikator penilaian kinerja guru. - Memanfaatkan Data Asesmen Nasional secara Bijak.
Data Rapor Pendidikan dan Asesmen Nasional jangan hanya menjadi tumpukan dokumen. Sekolah dan dinas pendidikan harus menggunakan data tersebut untuk memetakan indikator perundungan dan kesejahteraan siswa, lalu menyusun program sekolah berdasarkan kebutuhan riil di lapangan.
Investasi Masa Depan Generasi Alor
Mengoptimalkan Pembelajaran Sosio-Emosional (SEL) bukanlah beban kurikulum baru yang menambah rumit tugas guru. Sebaliknya, ini adalah upaya menyelaraskan apa yang sudah ada agar lebih bermakna.
Membangun sekolah yang aman, inklusif, dan penuh rasa kasih sayang di Alor bukan sekadar urusan meraih nilai ujian tinggi. Ini adalah investasi jangka panjang untuk mencetak SDM Nusa Tenggara Timur yang cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan memiliki karakter kepemimpinan yang tangguh.
Saatnya kita ubah ruang kelas menjadi rumah yang paling aman dan merangkul bagi setiap anak. (AN/Red)
Baca policy brief selengkapnya di Situs PSKP Kemendikdasmen
Catatan Redaksi: Artikel ini disarikan dari Policy Brief “Optimizing Social and Emotional Learning (SEL) to Improve Student Learning Outcomes” (KIX EMAP RCCS Indonesia, Kemendikdasmen, PSPK, GPE, dan IDRC). Salah satu penyusun dokumen kebijakan ini adalah Hadi Abdul Aziz Kammis (Kepala Seksi Pendidikan Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Alor).











