Beranda / Politik / Ditembak Saat Berpidato, Malcolm X Wafat sebagai Simbol Perjuangan Hak Sipil

Ditembak Saat Berpidato, Malcolm X Wafat sebagai Simbol Perjuangan Hak Sipil

Malcolm X berpidato sebelum ditembak pada 21 Februari 1965 di New York

Alor News, Internasional – Tanggal 21 Februari 1965 tercatat sebagai salah satu hari paling kelam dalam sejarah perjuangan hak sipil di Amerika Serikat. Pada hari itu, tokoh pergerakan kulit hitam, Malcolm X, ditembak saat sedang menyampaikan pidato di Audubon Ballroom, New York. Ia wafat dalam usia 39 tahun.

Malcolm X, yang lahir di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat, dengan nama Malcolm Little pada 19 Mei 1925, dikenal sebagai figur berpengaruh dalam perjuangan melawan diskriminasi rasial di Amerika. Retorikanya yang tajam dan sikapnya yang tegas menjadikannya simbol perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami warga Afrika-Amerika pada era 1950–1960-an.

Dalam perjalanan aktivismenya, Malcolm X sempat menjadi tokoh penting dalam Nation of Islam. Ia menyerukan kebanggaan identitas kulit hitam dan perlawanan terhadap sistem yang dianggap menindas. Namun, setelah menunaikan ibadah haji pada 1964, terjadi perubahan signifikan dalam cara pandangnya. Ia mulai menekankan pentingnya persaudaraan lintas ras serta memperluas perjuangannya ke ranah hak asasi manusia secara global.

Baca Juga:
Mengenang 15 Januari 1962: Pertempuran Laut Aru dan Pesan Terakhir Yos Sudarso yang Abadi

Peristiwa penembakan terjadi saat ia baru memulai pidato di hadapan ratusan pendukungnya. Tiga pria bersenjata melepaskan tembakan bertubi-tubi ke arahnya. Malcolm X sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak tertolong. Insiden tersebut mengguncang publik Amerika dan menjadi salah satu tragedi besar dalam sejarah gerakan hak sipil.

Kematian Malcolm X tidak menghentikan pengaruh gagasannya. Justru, ia semakin dikenang sebagai simbol keberanian dalam melawan rasisme dan ketidakadilan. Pemikirannya tentang harga diri, kesadaran identitas, serta perjuangan hak asasi manusia terus menjadi inspirasi bagi berbagai gerakan sosial di dunia.

Lebih dari enam dekade berlalu, nama Malcolm X tetap tercatat dalam sejarah sebagai tokoh yang wafat di atas mimbar perjuangan. Suaranya mungkin telah terhenti pada 21 Februari 1965, tetapi semangatnya tetap hidup dalam narasi panjang perjuangan kesetaraan dan keadilan umat manusia.

Penulis: Redaksi Alor News

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *