Beranda / Religi / Isra Mi’raj: Keseimbangan Perjalanan Horizontal dan Vertikal di Era Teknologi

Isra Mi’raj: Keseimbangan Perjalanan Horizontal dan Vertikal di Era Teknologi

Isra Mi’raj: Keseimbangan Perjalanan Horizontal dan Vertikal di Era Teknologi

Kalabahi, Alor News —  Peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar kisah perjalanan luar biasa, melainkan pesan peradaban yang relevan lintas zaman. Di dalamnya tersimpan ajaran penting tentang keseimbangan hidup manusia, yakni antara perjalanan horizontal (sosial-kemanusiaan) dan perjalanan vertikal (spiritual-ketuhanan). Pesan ini justru semakin aktual di tengah pesatnya kemajuan teknologi dewasa ini.

Isra Mi’raj terdiri dari dua peristiwa besar. Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsa (Palestina), sebuah perjalanan horizontal yang menghubungkan ruang, sejarah, dan peradaban para nabi. Sementara Mi’raj adalah perjalanan vertikal dari Masjidil Aqsa menembus langit hingga Sidratul Muntaha, tempat Rasulullah menerima perintah shalat secara langsung dari Allah SWT.

Isra Mi’raj sebagai Pesan Peradaban

Makna perjalanan horizontal (Isra) menegaskan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan kesalehan individual, tetapi juga tanggung jawab sosial. Rasulullah ﷺ “menyusuri bumi” terlebih dahulu sebelum “naik ke langit”, seolah memberi pesan bahwa kedekatan kepada Tuhan harus tercermin dalam kepedulian terhadap sesama manusia. Islam hadir untuk membangun relasi, menegakkan keadilan, dan merawat kemanusiaan.

Dalam konteks masyarakat modern, pesan ini sangat relevan. Teknologi digital membuat manusia saling terhubung tanpa batas geografis. Namun, di saat yang sama, teknologi juga kerap melahirkan polarisasi, hoaks, ujaran kebencian, dan melemahnya empati sosial. Isra Mi’raj mengingatkan bahwa kemajuan teknologi seharusnya memperkuat nilai kemanusiaan, bukan sebaliknya.

Sementara itu, peristiwa Mi’raj menegaskan pentingnya perjalanan vertikal, hubungan manusia dengan Allah SWT. Perintah shalat yang diterima Rasulullah ﷺ menjadi fondasi spiritual umat Islam. Shalat bukan hanya ritual, melainkan sarana pembentukan karakter, kedisiplinan, dan ketenangan batin. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan kompetitif, dimensi spiritual ini sering terpinggirkan.

Baca Juga: Kadis Kearsipan dan Perpustakaan Alor Kunjungi Kemenag Alor, Bahas Penguatan Program Literasi

Era teknologi menghadirkan kemudahan luar biasa, tetapi juga risiko keterasingan spiritual. Manusia modern bisa sangat maju secara intelektual dan teknologis, namun rapuh secara batin. Isra Mi’raj mengajarkan bahwa kemajuan lahiriah harus ditopang oleh kedalaman spiritual, agar teknologi tidak kehilangan arah dan nilai.

Menariknya, peristiwa Mi’raj yang pada masanya dianggap sulit dipercaya, kini lebih mudah dipahami secara nalar di tengah kemajuan sains dan teknologi. Manusia telah mampu menembus angkasa dan menjelajah luar bumi. Tentu Mi’raj tetaplah mukjizat, bukan produk teknologi. Namun kemajuan ini menegaskan bahwa keterbatasan akal manusia bukanlah batas kekuasaan Allah SWT.

Menjaga Keseimbangan di Tengah Kemajuan Zaman

Pada akhirnya, Isra Mi’raj mengajarkan integrasi iman, ilmu, dan etika. Perjalanan horizontal mengokohkan kepedulian sosial, sementara perjalanan vertikal meneguhkan ketundukan spiritual. Keduanya harus berjalan seimbang. Inilah pesan penting bagi masyarakat dan generasi digital hari ini, menjadi manusia yang cakap teknologi, peduli sesama, dan tetap berakar pada nilai-nilai ketuhanan.

Peringatan Isra Mi’raj seharusnya menjadi momentum refleksi bersama. Bahwa setinggi apa pun manusia “naik” dengan teknologi, ia harus tetap “membumi” dalam kemanusiaan. Dan sekuat apa pun ia berpijak di bumi, ia tidak boleh lupa untuk “menengadah” kepada Tuhan. Di situlah makna sejati Isra Mi’raj — keseimbangan perjalanan horizontal dan vertikal demi kemajuan peradaban yang berkeadaban.

Penulis/Editor: Redaksi Alor News

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *